Kamis, 01 Mei 2014

Pemuda Bisa untuk Indonesia Lebih Baik

Bismillaah..
Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..


*Basa-basi ah..*
Hey, guys. Salam kenal dari Lilis Sugiarti, aku anak Indonesia! Yeah.. #udahituaja

Ini nih ceritanya mau nge-share dikit euy tentang tulisanku yang mungkin agak keren dan penuh makna, Insya Allah. #jreengg. No protes protes! :) 

Oke, semoga bermanfaat..


Pemuda Bisa untuk Indonesia Lebih Baik
178 Gagasan Untuk Indonesia Lebih Baik

Indonesia…..
            Indonesiaku….
            Negeri nan indah dengan seribu pulau
Sayang, tangan-tangan mungil yang jahil membuat kacau balau
Indonesiaku….
            Negeri unik kaya akan budaya
Sayang, lestarinya tak terjaga, diklaim sudah tak berdaya
Indonesiaku….
Negeri dengan segala potensi
Sayang, tak kunjung puas dieksploitasi
Indonesiaku….
Negeri dengan segudang prestasi kejeniusan
Sayang, masih belum mampu mengangkat kejayaan

INDONESIA PUNYA SEGALANYA!!!
Tetapi, mengapa masih sangat disayangkan? Semua realita begitu memprihatinkan.
Kemana perginya jejak-jejak kemerdekaan?
Kemana terbangnya sayap-sayap penebar kasih?

Hilang, Indonesia gelap tanpa cahaya. Bahkan, Sang Penerang Dunia yang harusnya memadu simpul tawa dan mempererat tali kasih serta menghangatkan perdamaian bangsa dalam negeri, terkadang terdengar goyah.
Indonesia, citranya mulai pudar. Mana semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA yang dalam arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua? Sedang masih bisa kita lihat sendiri, memori itu masih tergambar jelas ‘Deskriminasi hukum antara kelas atas dan kelas bawah. Atau perbedaan keyakinan atau tuntunan agama tiap kaum yang selalu jadi masalah berdarah’. Mana toleransi? Semua yang tertulis tak mampu menjamin. Hukum pun untuk dilanggar. Ini bukan tentang hal kecil, ini besar, menyebar dan melebar!
Kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia harus malu dengan ini. Dimana senyum Indonesia? Dimana wajah bahagia Indonesia? Selama ini malah hanya membuat resah masyarakat, membuat sendu pilu keluarga akan berbagai kasus, membuat perpecahan, sampai adu kehebatan dengan prajurit Negara di gerbang pemerintahan. Anarkis! Batin orang tua yang teriris, mereka menangis melihat tingkah laku anaknya yang sangat miris.
Harusnya sebagai pemuda-pemudi bangsa Indonesia, kita yang bangkit! Ayo bangkit untuk sebuah kemerdekaan yang benar Merdeka! Mana aksi pedulimu? Mana uluran tanganmu? Mana jalinan kasihmu? Mereka yang terlantar, mereka yang terinjak, mereka yang terjajah oleh reformasi negeri ini. Apakah tak kunjung jua kau dengar jerit tangis mereka diluar sana. Kelaparan, kedinginan, perih dan sakit. Pemuda bangsa, kelak janganlah jadi pejabat hanya mengeluarkan tipu muslihat, enyah saja menumbalkan rakyat dan masa bodoh mereka melarat. Jangan hanya mengumbar pasal-pasal janji diatas mimbar dengan nyanyian yang begitu meyakinkan! Setelah bendera kuasamu berkibar, kau lupa diri lupa daratan. Akan jadi apa negeri ini kelak, bilamana pemuda penerus pemimpin bangsa seperti itu semua?
Dimana reformasi? Ucapan dan jalan saja tak serasi. Tampang berdasi tetapi, sajak utang piutang beraksi. Lalu, penghuni kelas bawah jatuh tak tentu arah. Namun, penghuni kelas atas tetap menghias kamarnya agar terlihat mewah. Kembali terjajah, kembali terjajah. Perang abstrak tak berdarah. Rakyat bukan budak pemerintahan! Tak ingin berdiam diri di singgasana kepenatan. Kini siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang harus bergerak maju? Kau! PEMUDA INDONESIA! Ayo bangun tentramnya kehidupan dan pungut mereka yang terkapar berserakan! Bantu mereka yang terbelenggu dalam kesusahan, terpenjara nasib dan jangan biarkan badai korupsi menghujam!
Andai kita benar memahami arti sepotong episode sejarah Indonesia, kita akan tahu di setiap sudut negeri ini punya cerita kelam dan suram. Kita saksikan sendiri bagaimana Soekarno dan Hatta berjuang bersama pahlawan lainnya membebaskan Indonesia dari imperialisme dan kolonialisme Barat. Tetapi, sekarang malah bangsa sendiri yang menjajah bangsanya. Lihatlah, di beberapa sudut jalan yang tak pernah ditoleh! Sang Pahlawan yang dulu jadi pejuang kemerdekaan negeri ini, kini jadi gelandangan di negeri sendiri. Darah dan nyawanya dipetaruhkan. Sekarang kita tinggal menikmati, namun malah membiarkan mereka terlunta-lunta kesana kemari. Sekarang biaya perayaan hari besar dan upacara kemerdekaan saja sampai milyaran rupiah. Dulu, mereka membangun gedung, monument dan istana hanya bermodalkan semangat juang.
Pemuda-pemudi Indonesia. Harus kita yg langsung turun tangan dan ke lapangan, serasi dan beraksi untuk membantu sesama yg terinjak, terhentak, terhempas, terlindas, terpecah, terjajah oleh reformasi ini. Tak perlu menunggu pimpinan, terlalu lama! Mereka akan habis termakan. Makin merunduk makin terpuruk! mereka yg menangis, mereka yang mengemis. Begitu miris, tiada manis. Terbelenggu arah, terpenjara susah. Kita satu rumah, ini rumah kita, Bumi INDONESIA! Jangankan yg bukan pahlawan, yang pahlawan pun terabaikan! Inikah balas jasa, setelah MERDEKA??
Dengan apa kita sebagai pemuda membangkitkan kejayaan Indonesia kembali? Memerdekakan bangsa yang benar merdeka. Semua dimulai dari sini, dari dasar hati, dari dalam diri sendiri. Perbaiki pribadi! Kejar dan gapai semua mimpi! Perang semakin kejam. Pandai-pandai mengasah pedang. Pandangan dipertajam. Siap untuk berjuang. Tumbuhkan semangat juang yang terus berkobar,! Jangan menyerah, tetap tenang, berdalih lembut, beralun merdu, dan seirama dengan gerak maju serdadu! Kita  punya tujuan, kita punya masa depan. Perhatikan! Semakin dekat ke puncak segalanya. Yakin dan bisa jadi Sang Juara! Indonesia esok akan berbunga dengan bunga-bunga bangsa yang terlahir sebagai Sang Juara yang berhasil membangun Indonesia Jaya. Untuk Indonesia lebih baik. Pemuda, siapa lagi kalo bukan kita?

Bogor, 2 Juli 2013

Lilis Sugiarti
SMAN 1 Cibarusah Kab. Bekasi


Lulusan 2013