Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh..
*Basa-basi ah..*
Hey, guys. Salam kenal dari Lilis Sugiarti, aku anak Indonesia! Yeah.. #udahituaja
Ini nih ceritanya mau nge-share dikit euy tentang tulisanku yang mungkin agak keren dan penuh makna, Insya Allah. #jreengg. No protes protes! :)
Oke, semoga bermanfaat..
Pemuda Bisa untuk Indonesia
Lebih Baik
178 Gagasan Untuk Indonesia Lebih Baik
Indonesia…..
Indonesiaku….
Negeri nan indah dengan seribu pulau
Indonesiaku….
Negeri nan indah dengan seribu pulau
Sayang, tangan-tangan mungil yang jahil
membuat kacau balau
Indonesiaku….
Negeri unik kaya akan budaya
Negeri unik kaya akan budaya
Sayang, lestarinya tak terjaga, diklaim sudah
tak berdaya
Indonesiaku….
Negeri dengan segala potensi
Sayang, tak kunjung puas dieksploitasi
Indonesiaku….
Negeri dengan segudang prestasi kejeniusan
Sayang, masih belum mampu mengangkat kejayaan
INDONESIA PUNYA SEGALANYA!!!
Tetapi, mengapa masih sangat disayangkan?
Semua realita begitu memprihatinkan.
Kemana perginya jejak-jejak kemerdekaan?
Kemana terbangnya sayap-sayap penebar kasih?
Hilang, Indonesia gelap tanpa cahaya. Bahkan,
Sang Penerang Dunia yang harusnya memadu simpul tawa dan mempererat tali kasih
serta menghangatkan perdamaian bangsa dalam negeri, terkadang terdengar goyah.
Indonesia, citranya mulai pudar. Mana
semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA yang dalam arti berbeda-beda tetapi tetap satu
jua? Sedang masih bisa kita lihat sendiri, memori itu masih tergambar jelas
‘Deskriminasi hukum antara kelas atas dan kelas bawah. Atau perbedaan keyakinan
atau tuntunan agama tiap kaum yang selalu jadi masalah berdarah’. Mana
toleransi? Semua yang tertulis tak mampu menjamin. Hukum pun untuk dilanggar. Ini
bukan tentang hal kecil, ini besar, menyebar dan melebar!
Kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia harus
malu dengan ini. Dimana senyum Indonesia? Dimana wajah bahagia Indonesia?
Selama ini malah hanya membuat resah masyarakat, membuat sendu pilu keluarga
akan berbagai kasus, membuat perpecahan, sampai adu kehebatan dengan prajurit
Negara di gerbang pemerintahan. Anarkis! Batin orang tua yang teriris, mereka
menangis melihat tingkah laku anaknya yang sangat miris.
Harusnya sebagai pemuda-pemudi bangsa
Indonesia, kita yang bangkit! Ayo bangkit untuk sebuah kemerdekaan yang benar
Merdeka! Mana aksi pedulimu? Mana uluran tanganmu? Mana jalinan kasihmu? Mereka
yang terlantar, mereka yang terinjak, mereka yang terjajah oleh reformasi
negeri ini. Apakah tak kunjung jua kau dengar jerit tangis mereka diluar sana.
Kelaparan, kedinginan, perih dan sakit. Pemuda bangsa, kelak janganlah jadi
pejabat hanya mengeluarkan tipu muslihat, enyah saja menumbalkan rakyat dan
masa bodoh mereka melarat. Jangan hanya mengumbar pasal-pasal janji diatas
mimbar dengan nyanyian yang begitu meyakinkan! Setelah bendera kuasamu
berkibar, kau lupa diri lupa daratan. Akan jadi apa negeri ini kelak, bilamana
pemuda penerus pemimpin bangsa seperti itu semua?
Dimana reformasi? Ucapan dan jalan saja tak
serasi. Tampang berdasi tetapi, sajak utang piutang beraksi. Lalu, penghuni
kelas bawah jatuh tak tentu arah. Namun, penghuni kelas atas tetap menghias
kamarnya agar terlihat mewah. Kembali terjajah, kembali terjajah. Perang
abstrak tak berdarah. Rakyat bukan budak pemerintahan! Tak ingin berdiam diri
di singgasana kepenatan. Kini siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang harus
bergerak maju? Kau! PEMUDA INDONESIA! Ayo bangun tentramnya kehidupan dan
pungut mereka yang terkapar berserakan! Bantu mereka yang terbelenggu dalam
kesusahan, terpenjara nasib dan jangan biarkan badai korupsi menghujam!
Andai kita benar memahami arti sepotong
episode sejarah Indonesia, kita akan tahu di setiap sudut negeri ini punya
cerita kelam dan suram. Kita saksikan sendiri bagaimana Soekarno dan Hatta
berjuang bersama pahlawan lainnya membebaskan Indonesia dari imperialisme dan
kolonialisme Barat. Tetapi, sekarang malah bangsa sendiri yang menjajah
bangsanya. Lihatlah, di beberapa sudut jalan yang tak pernah ditoleh! Sang
Pahlawan yang dulu jadi pejuang kemerdekaan negeri ini, kini jadi gelandangan
di negeri sendiri. Darah dan nyawanya dipetaruhkan. Sekarang kita tinggal
menikmati, namun malah membiarkan mereka terlunta-lunta kesana kemari. Sekarang
biaya perayaan hari besar dan upacara kemerdekaan saja sampai milyaran rupiah.
Dulu, mereka membangun gedung, monument dan istana hanya bermodalkan semangat
juang.
Pemuda-pemudi Indonesia. Harus kita yg langsung turun tangan dan ke lapangan, serasi
dan beraksi untuk membantu sesama yg terinjak, terhentak, terhempas, terlindas,
terpecah, terjajah oleh reformasi ini. Tak perlu menunggu pimpinan, terlalu
lama! Mereka akan habis termakan. Makin merunduk makin terpuruk! mereka yg
menangis, mereka yang mengemis. Begitu miris, tiada manis. Terbelenggu arah,
terpenjara susah. Kita satu rumah, ini rumah kita, Bumi INDONESIA! Jangankan yg
bukan pahlawan, yang pahlawan pun terabaikan! Inikah balas jasa, setelah
MERDEKA??
Dengan apa kita sebagai pemuda membangkitkan
kejayaan Indonesia kembali? Memerdekakan bangsa yang benar merdeka. Semua
dimulai dari sini, dari dasar hati, dari dalam diri sendiri. Perbaiki pribadi!
Kejar dan gapai semua mimpi! Perang semakin
kejam. Pandai-pandai mengasah pedang. Pandangan dipertajam. Siap untuk
berjuang. Tumbuhkan semangat juang yang terus berkobar,! Jangan menyerah, tetap
tenang, berdalih lembut, beralun merdu, dan seirama dengan gerak maju serdadu!
Kita punya tujuan, kita punya masa
depan. Perhatikan! Semakin dekat ke puncak segalanya. Yakin dan bisa jadi Sang
Juara! Indonesia esok akan berbunga dengan bunga-bunga bangsa yang terlahir
sebagai Sang Juara yang berhasil membangun Indonesia Jaya. Untuk Indonesia
lebih baik. Pemuda, siapa lagi kalo bukan kita?
Bogor,
2 Juli 2013
Lilis Sugiarti
SMAN
1 Cibarusah Kab. Bekasi
Lulusan
2013